Pembacaan : Daniel 3:1-30
Kisah ini ditulis dalam Kitab Daniel yang ditulis oleh
seorang nabi bernama Daniel yang menceritakan tentang awal masa pendudukan
Yerusalem oleh Raja Nebukadnezar dari Babel. Merupakan salah satu buku yang
menghisahkan tentang sejarah umat pilihan Allah pada masa perjanjian lama
hingga catatan tentang penglihatan (wahyu) kepada Daniel tentang akhir zaman.
Perikop tentang Perapian
Yang Menyala-nyala (Daniel 3:1-30), menceriterakan kejadian setelah
pendudukan raja Nebukadnezar atas Yerusalem dimana dalam kejadian itu turut
serta dia membawa perkakas-perkakas dari rumah Allah dan beberapa “orang
terpelajar” dari bangsa Israel yang merupakan keturunan penguasa dan bangsawan
ke Babel diantaranya adalah Daniel, Hananya, Misael dan Azarya (Daniel 1:1-6). Tindakan
ini diambil karena kerajaan Babel telah tumbuh dengan sangat pesatnya sehingga
mereka kekurangan orang terpelajar dari bangsa mereka sendiri untuk menjalankan
pemerintahan.
Peristiwa yang diceritakan dalam perikop pembacaan alkitab
kali ini terjadi setelah Daniel memberitahukan serta menerjemahkan mimpi raja
Nebukadnezar sehingga sang raja memuliakan Allah dan dia (Daniel) serta
dianugerahkanlah Daniel dengan banyak pemberian besar, diangkat menjadi
penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana
yang ada di Babel. Dan atas permintaan Daniel, teman-temannya Hananya, Misael
dan Azarya (Yang kemudian dinamakan dengan Sadrakh, Mesakh dan Abednego)
diserahkan pemerintahan atas wilayah Babel (Daniel 2: 47-49).
Setelah peristiwa ini, raja Nebukadnezar mendirikan baginya sebuah patung berhala yang terbuat dari emas disuatu tempat yang dinamakan dataran Dura di salah satu wilayah Babel serta membuat suatu peraturan bagi seluruh suku bangsa tentang patung tersebut yaitu : “demi kamu, mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar tersebut” (Daniel 3:5). Pada awal perikop pembacaan ini dapat kita amati bahwa dengan segala mujizat, dan keajaiban yang telah diperbuat Allah melalui diri seorang Daniel yang menjadi satu-satunya orang di negeri itu yang dapat mengartikan mimpi raja bahkan menceriterakan mimpi raja tersebut sebelum sang raja menceriterakannya, yang bahkan membuat dia telah memuji dan memuliakan Allah setelah peristiwa itu, tidak serta-merta membuat raja Nebukadnezar bertobat dan sujud menyembah Allah.
Setelah peristiwa ini, raja Nebukadnezar mendirikan baginya sebuah patung berhala yang terbuat dari emas disuatu tempat yang dinamakan dataran Dura di salah satu wilayah Babel serta membuat suatu peraturan bagi seluruh suku bangsa tentang patung tersebut yaitu : “demi kamu, mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar tersebut” (Daniel 3:5). Pada awal perikop pembacaan ini dapat kita amati bahwa dengan segala mujizat, dan keajaiban yang telah diperbuat Allah melalui diri seorang Daniel yang menjadi satu-satunya orang di negeri itu yang dapat mengartikan mimpi raja bahkan menceriterakan mimpi raja tersebut sebelum sang raja menceriterakannya, yang bahkan membuat dia telah memuji dan memuliakan Allah setelah peristiwa itu, tidak serta-merta membuat raja Nebukadnezar bertobat dan sujud menyembah Allah.
Yang memunculkan suatu pertanyaan dalam benak saya “apakah
ini adalah hal yang masuk akal ketika
seseorang melihat kuasa Allah dengan mata kepala sendiri dan tidak mengalami
pertobatan dalam hidupnya? Apakah sikap raja Nebukadnezar ini juga menggambarkan
sifat manusia sebagai orang berdosa pada umumnya? Apakah mujizat dan penyataan
kuasa seperti yang telah diperbuat Allah kepada bangsa Israel dalam perjalanan
keluar dari tanah mesir belum cukup untuk menyatakan kemahakuasaan Allah
sehingga bangsa Israel harus mengkhianati Allah dengan membuat bagi mereka
suatu patung berhala anak lembu emas (Keluaran 32:1-35) ? Apakah sebenarnya
orang-orang yang dikisahkan tersebut belum mengenal Allah yang sejati sehingga
mereka jatuh kedalam lubang yang sama? Sudahkah kita mengenal Allah yang sejati
bukan allah yang dibuat oleh akal pikiran kita sendiri seperti yang dilakukan
oleh raja Nebukadnezar dengan patung emasnya dan bangsa Israel dengan anak
lembu emasnya?
Kembali kepada kisah dalam perikop pembacaan ini. Diantara orang-orang
di negeri itu, ada orang-orang yang tidak menaati titah raja Nebukadnezar untuk
sujud menyembah patung emas tersebut yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang
pada akhirnya diperhadapkan kepada sang raja. Berkatalah Nebukadnezar kepada
mereka :”Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak
memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang jika
kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab,
gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah
patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakan
seketika kedalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat
melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (Daniel 3:14-15). Dengan iman percaya
lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada
gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang
kami puja sanggup melepaskan kami, maka ia akan melepaskan kami dari perapian
yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya
tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku,
dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18).
Sungguh suatu pernyataan iman yang luar biasa dari ketiga
orang tersebut. Pernyataan iman yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang
yang telah mengenal Tuhan Allah yang sejati sehingga mereka rela kehilangan
nyawa demi iman percaya mereka. Dalam bacaan setelahnya Tuhan menolong Sadrakh,
Mesakh, dan Abednego selamat dari perapian yang menyala-nyala tersebut. Maka berkatalah
raja Nebukadnezar : “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah
mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh
percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh
mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali
Allah mereka.” (Daniel 3:28).
Setelah membaca perikop ini saya membuat suatu pengandaian
dalam pikiran saya yaitu bilamana ketiga orang tersebut yaitu Sadrakh, Mesakh
dan Abednego tidak selamat (secara fisik) dari perapian yang menyala-nyala itu,
apakah inti dari cerita ini akan berubah?
Tidak!..... Tentu saja Tidak!.
Karena pembacaan ini mau menyatakan hal tentang iman percaya
mereka dan iman percaya mereka tidak berubah dalam kondisi apapun. Mereka menyerahkan
penuh segala sesuatu yang akan terjadi kedalam kendali Tuhan. Maka semua yang
terjadi adalah sesuai dengan perkenaan Tuhan.
Hal serupa terkadang terjadi dalam permintaan lewat doa yang
kita panjatkan saya ambil contoh : doa untuk meminta kesembuhan ketika terjadi
sakit penyakit. Kita tentu sebagai manusia yang lemah akan berdoa meminta mujizat
kesembuhan. Tapi apakah ketika kesembuhan tak kunjung datang serta-merta
menurunkan bahkan mengubah bentukan iman percaya kita kepada Tuhan menjadi
bentuk kekecewaan? Seharusnya tidak demikian. Malah makin relevanlah yang dikatakan
oleh rasul Paulus dalam surat Filipi 1:20-21 “20Sebab yang sangat
kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh
malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata
dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.21Karena
bagiku hidup adalah kristus dan mati adalah keuntungan.
Pernyataan iman seperti ini hanya akan dimiliki oleh pribadi
yang betul-betul mengenal dan percaya kepada Allah dan Kristus Yesus sebagai
Tuhan dan Juru Selamat.
Maka…. Sudahkah saudara dan saya mengenal Tuhan yang sejati?
Kiranya Tuhan Yesus dengan Kasih-Nya Menyertai Kita Semua.
Amin.


{ 0 comments... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar